Bulan Rajab Bulan yang Dimuliakan

331 views

bulan-rajab-bulan-yang-dimuliakanRajab adalah bulan ke tujuh dari penggalan Islam qomariyah (hijriyah). Peristiwa Isra Mi’raj  Nabi Muhammad  SAW untuk menerima perintah salat lima waktu juga terjadi pada 27 Rajab ini. Bulan Rajab juga merupakan salah satu bulan haram, artinya bulan yang dimuliakan.

 

Menurut Wakil Ketua PCNu Kabupaten Tegal, Muslihun SAg, dalam tradisi Islam dikenal ada empat  bulan haram, ketiganya secara berurutan  adalah Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, dan satu bulan yang tersendiri, yakni bulan Rajab.

“Dinamakan bulan yang dimuliakan karena pada bulan-bulan tersebut orang Islam dilarang mengadakan peperangan. Tentang bulan-bulan  ini, juga sudah dijelaskan dalam Al-Qur’an,” katanya.
Dalam bulan yang dimuliakan ini, lanjut Muslihun, juga dianjurkan untuk melakukan puasa. Hal ini muncul dalam hadis-hadis Nabi yang menganjurkan atau memerintahkan berpuasa dalam bulan- bulan tersebut dan itu cukup menjadi hujjah atau landasan mengenai keutamaan puasa di bulan Rajab.

Ia menjelaskan, tentang hadist yang di riwayatkan dari Mujibah al-Bahiliyah, Rasulullah bersabda “Puasalah pada bulan-bulan haram.” (Riwayat Abu Dawud, Ibnu Majah, dan Ahmad). Hadis lainnya adalah riwayat al-Nasa’i dan Abu Dawud dan disahihkan oleh Ibnu Huzaimah   dalam riwayat tersebut Usamah berkata pada Nabi Muhammad Saw, “Wahai Rasulallah, saya tak melihat Rasul melakukan puasa (sunnah) sebanyak yang Rasul lakukan dalam bulan Sya’ban. Rasul menjawab bulan Sya’ban adalah bulan antara Rajab dan Ramadan yang dilupakan oleh kebanyakan orang,” tiru Muslihun seperti dalam hadits

Selain itu, Ia juga menjelaskan menurut as-Syaukani dalam Nailul Authar, dalam bahasan puasa sunnah, dimana nabi mengungkapkan bulan sya’ban adalah bulan antara Rajab dan Ramadan yang dilupakan kebanyakan orang. “Secara implisit menunjukkan bahwa bulan Rajab juga disunnahkan melakukan puasa di dalamnya,” jelasnya.

Keutamaan berpuasa pada bulan yang dimuliakan, lanjut Muslihun, juga diriwayatkan dalam hadis sahih imam Muslim. Bahkan  berpuasa di dalam bulan-bulan mulia ini disebut Rasulullah sebagai puasa yang paling utama setelah puasa Ramadan.
“Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumid-Din menyatakan bahwa kesunnahan berpuasa menjadi lebih kuat jika dilaksanakan pada hari-hari utama (al-ayyam al-fadhilah). Hari- hari utama ini dapat ditemukan pada tiap tahun, tiap bulan dan tiap minggu. Terkait siklus bulanan ini Al-Ghazali menyatakan bahwa Rajab terkategori al-asyhur al-fadhilah di samping dzulhijjah, muharram dan sya’ban. Rajab juga terkategori al-asyhur al-hurum  di samping dzulqa’dah, dzul hijjah, dan muharram,” jelasnya pula.

Ia juga menyebutkan dalam  Kifayah al-Akhyar, bahwa bulan yang paling utama untuk berpuasa setelah Ramadan adalah bulan- bulan haram yaitu dzulqa’dah, dzul hijjah, rajab dan  muharram. Di antara keempat bulan itu yang paling utama untuk puasa adalah bulan al-muharram, kemudian Sya’ban. Namun menurut Syaikh Al-Rayani, bulan puasa yang utama setelah al-Muharram adalah Rajab. (*)

Oleh : Muslikhun SAg

Pengurus PC NU Kabupaten Tegal muslihun

banner 468x60)

Related Post