Dzikir dan Tausyiah bersama Habib Lutfi dan Gus Muafiq

682 views

2016-10-05-21-41-21

 

Slawi, Media Center NU

Ribuan santri dari berbagai wilayah Kabupaten Tegal hadir di Lapangan BRIGIF 4/DR Slawi (5/10),mereka mengahadiri acara Dzikir dan Tausyiah Kebangsaan Demi Ketahanan Nasional dalam rangka Tahun Baru Islam 1438 H, Hari Santri Nasional, HUT TNI ke 71, HUT KODAM IV/DIP Ke 66 dan HUT BRIGIF 4/DR Ke-55. Acara ini di adakan oleh Pemerintah Kabupaten Tegal bekerjasama dengan Brigif Dewa Ratna, Kodim, Polres dan RMI NU Kabuapten Tegal.

“Alhamdulillah acara ini juga ada pemberian santunan anak yatim kepada 100 anak, kami berharap dengan adanya acara ini, kita bangun kebersamaan yang kuat dan kita benar-benar melakukan hijrah secara maknawiyah” kata ketua panitia H. Ahmad Was’ari, M.Pd

Dalam peringatan tahun ini, panitia mengahadirkan dua tokoh ulama besar yaitu Habib Lutfi bin Yahya dari Pekalongan dan Gus Muafiq dari Yogyakarta.

“Ini peristiwa besar yang kita peringati, hijriah ini mengingatkan kita bahwa kita berasal dari akherat ke dunia, makanya bentuk manusia itu sempurna, contohnya mulut kita tanpa bunyipun bisa di pahami” kata Gus Muafiq dalam tausyiahnya.

Lanjut menurut beliau, Islam hijrah ke Indonesia sangat mudah dikenal dan dipahami saat itu, karena Islam datang dengan bahasa dan budaya Indonesia. Bangsa ini selalu selamat, kenapa bangsa ini selalu selamat? Karena bangsa ini sudah di serahkan kepada Allah dan Rasul oleh leluhur kita. Dari sabang Sambang sampe Meroke di sebut wilayah yang artinya kawasan Wali Allah. Ketika kamu melindungi bangsa Indonesia, sebernarnya kita melindungi kepada leluhur kita yang telah menyerahkan kepada Allah SWT dan Rasulullah dan perlu kita ketahui bahwa ideologi kita, Pancasila adalah milik kita (Islam.red) yang sedang di pinjam oleh negeri kita. Jadi jangan pernah bermimpi untuk mendirikan Negara Islam (khilafah.red).

Habib Lutfi menyampaikan “Jika kita terus seperti ini, menjaga kebersamaan, menjaga kekeluargaan antara Ulama, TNI dan POLRI, saya yakin kita akan meningkatkan ketahanan nasional.”

Beliau menambahkan “Kita ini harus produktif, kita ini sudah tertinggal jauh oleh bangsa lain. Coba bayangkan, bila kita bisa memanfaatkan kemajuan teknologi, kita bisa menggunakan laboratorium untuk meneliti kandungan air kita, kandungan tanah kita untuk Bidang Pertanian. Jika saja setiap Kecamatan bisa mengoperasikan itu, jelas kita menjadi Bangsa yang maju”

Peringatan tahun ini di tutup dengan do’a yang di pimpin KH. Khambali Ustman dan dilanjut menyanyikan lagu “Padang Wulan” serta “Syukur” oleh Habib Musthofa dari Jawa Timur. (mln)

 

banner 468x60)

Related Post