Hati Yang Selamat

529 views

screenshot_2

الحمد لله الذي هدانا لهذا وما كنّا لنهتدي لولا ان هدانا الله. اشهد ان لّا اله الّا الله وحده لا شريك له. واشهد انّ محمدا نّبيّ الرحمة وقدوة الامّة لنيل السعادةِ فى الدّنيا والاخرةِ. اللّهم صلّ وسلّم على هذا النّبيّ الكريمِ محمدٍ وعلى اله واصحابه ومن تبعهم الى يوم الدّين. امّا بعد : فيا ايّها النّاس اوصيكم وايّاي بتقوى الله فقد فاز المتّقون.
قال الله تعالى : ومن يتّق الله يجعل له مخرجًا . ويرزقه من حيث لا يحتسب. ومن يتوكل على الله فهو حسبه . انّ الله بلغ امره . قد جعل الله لكل شيئ قدرا .

Hadirin siding Jum’ah Rahimakumullah
Untuk membentuk diri kita hingga mencapai derajat muttaqin, jelas-jelas menuntut perjuangan dan pengorbanan baik lahir maupun bathin. Secara bathiniyah kita harus berupaya sekuat-kuatnya untuk mengkondisikan hati kita hingga menjadi hati yang murni, hati yang bersih atau hati yang selamat, hati yang bersih, tulus dan ikhlas dalam menerima segala titah dan perintah Allah swt tanpa ada rasa sungkan, malas dan tidak menentang sedikitpun.
Berkenaan dengan hati, Nabiyullah Zakaria as pernah berdoa kepada Allah swt sebagaimana tercantum di dalam QS. Asyy-Syu’araa ayat 87 – 89 yang artinya :

“Dan janganlah Engkau hinakan aku pada hari mereka dibangkitkan, (yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih, (QS. Asy-Syu’ara : 87 – 89)”

Hadirin siding jum’ah rahimakumullah
Berdasarkan ayat ini maka jelaslah bahwa dari sekian banyak insan, hanya orang – orang yang memiliki hati yang salim-lah yang akan selamat dari azab Allah swt, sedangkan orang – orang yang berhati qasi (keras dan kasar) serta orang – orang yang berhati ghafil (lalai) tidak akan selamat dari azab Allah swt.

Hadirin, maka ibadah yang kita lakukan bertujuan untuk meng8bah hati – hati yang keras dan kasar hingga menjadi hati yang lemah lembut dan halus, mengubah hati yang lalai menjadi hati yang penuh semangat dan zuhud. Karena kedua macam hati ini sangat berbahaya dan sangat dibenci oleh Allah swt. Hati yang qasi (keras) sifatnya suka menentang terhada segala bentuk kebaikan dan kemaslahatan umum, tidak menyukai yang ma’ruf, tetapi senang pada kemungkaran, Rasulullah saw menyatakan perihal tersebut dengan sabdanya :

اَبْعَدُالْاَشْيَاءِ مِنَاللَّهِ تَعَالَى الْقَلْبُ الْقَاسِيُّ
“Sejauh – jauh benda yang dijauhkan dari sisi Allah swt adalah hati yang keras”

Adapun hati yang ghofil (lalai) ialah hati yang tak peduli terhadap berbagai kebajikan. Ia mendengarkan fatwa-fatwa agama yang disampaikan oleh para ulama, tetapi ia tidak memperhatikannya dan juga tidak berkenan untuk mengamalkannya atau kadang-kadang saja mengamalkannya bial ia dalam kesulitan. Orang yang memiliki hati yang seperti ini selalu bersikap masa bodoh, atau acauh tak acuh saja. Sebagaimana firman Allah swt yang artinya :

“ Dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas” ( QS ; Al-Kahfi ; 28 )

Di dalam hadits yang lain, Rasululllah saw lebih menegaskan lagi :
اِعْلَمُوْا اَنَّ اللَّهَ لَا يَقْبَلُ دعَاءً مِنْ قَلْبِ غَافِلٍ
“Ketahuilah, bahwasanya Allah swt tidak akan pernah menerima do’a yang dipanjatkan oleh orang – orang yang hatinya lalai”

Hadirin, apabila dari dulu hingga saat ini kita memohonkan sesuatu keinginan kepada Allah swt tetapi yang kita inginkan iu belum terbukti atau terlaksana, jangan salahakan Allah dan juga jangan salahkan pula Rasulullah saw yang telah mengajarkan doa – doa kepada kita, tetapi intropeksilah diri kita, karena mungkin saja hati kita termasuk hati-hati yang lalai.

بَارَكَاللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِيْ القُرْآنِ العَظِيْمِ, وَنَفَعَنِيْ وَإِيَاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَ الذِكْرِ الحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَا وَتَهُ إنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَحِيْمُ.

Ditulis oleh : Tamrin MN ( Wakil Ketua LTN NU Kab. Tegal )

banner 468x60)

Related Post