Islam Agama Penebar Kedamaian

827 views

 

 

toharudin-mpd

Akhir-akhir ini kita sering disuguhkan berita tentang ekstrimisme yang berlatar belakang agama, seperti teror bom buku yang ditujukan kepada tokoh Jaringan Islam Liberal Ulil Absor Abdalla, tragedi bom bunuh diri di Masjid Mapolresta Cirebon, peledakan bom di Gereja Bethel Injil Sepenuh di Tegal Harjo Jabres Solo. Kemudian timbul permasalahan, benarkah agama Islam mengajarkan kekerasan dalam berdakwah?

Islam  merupakan agama damai dan selamat, agama yang benar-benar membawa kedamaian dan keselamatan kepada pemeluknya maupun bagi seluruh umat manusia serta makhluk lainnya.

Islam sebagai agama damai itu dapat dibuktikan dari berbagai aspek berikut. Pertama, dari segi nama, Islam berasal dari kata aslamayuslimuIslaman yang berarti menyerahkan, patuh dan tunduk.  Islam dari kata salima – yaslamu – silman / salaamatan yang berarti selamat, sentosa dan damai. Orang yang memeluk Islam berarti akan memperoleh kedamaian dan keselamatan di dunia dan akherat nanti. Islam adalah agama universal, mencakup segala segi kehidupan baik yang bersifat komunal maupun individual. Peraturan yang menyangkut kehidupan keseharian muslim yang terdapat dalam Al-Qur’an dan Sunnah merupakan cetak biru bagi masyarakat muslim, peraturan-peraturan itu antara lain tentang ibadah, politik, kemasyarakatan, hubungan internasional dan sebagainya. Semua itu titik simpulnya adalah agar manusia selamat dan damai dalam menempuh hidup ini.

Jika dari kedua kata yang berkaitan dengan Islam tersebut, aslama dan salima dihubungkan maka terkait suatu pemahaman yang runtut, bahwa orang tunduk, patuh dan menyerahkan diri (aslama) pada allah SWT berarti dia menuju jalan keselamatan (salima). Keselamatan itulah akhir tujuan manusia dan keselamatan yang diperoleh dengan tunduk, patuh dan menyerah diri pada Allah sebagai syarat kedamaian seseorang (silman). Dengan demikian jelas bahwa nama Islam itu sendiri memberi gambaran bahwa agama Islam adalah agama yang membawa kedamaian bagi semua manusia di dunia dan keselamatan akherat khusus bagi orang Islam.

Kedua, dari segi ajaran. Islam mengajarkan perdamaian di dunia pada sesama manusia tanpa membedakan suku, bangsa, agama atau yang lainnya dengan prinsip kasih sayang sesama. Sebagaimana yang diajarkan oleh Nabi Muhammad Saw. “Sayangilah orang di bumi, maka kamu akan disayangi yang di langit”. Nabi Muhammad Saw di utus Allah dengan membawa misi Islam, juga untuk rahmat semesta alam, berarti Islam diturunkan untuk menciptakan perdamaian di dunia ini. Jadi anggapan para orientalis bahwa Islam suka perang dan Islam disebarkan dengan pedang itu salah, kalaupun orang muslim memerangi orang non muslim itu hanya karena mempertahankan Islam, ketika orang-orang non muslim menghambat dakwah Islam dengan kekerasan.

Ajaran Islam menuntun manusia untuk hidup damai dan sejahtera. Misalnya Islam mengajarkan tasamauh (toleransi) terhadap sesama, baik terhadap sesama muslim maupun non muslim. Islam mengajarkan bahwa sesama muslim harus bersatu serta tidak bercerai berai, bertengkar dan bermusuhan. Sesama muslim adalah saudara. Apabila terjadi perselisihan kita diperintahkan supaya segera menyelesaikan dan mendamaikan dengan seadil-adilnya. Sebagaimana Firman Allah SWT. Artinya:

Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu (yang berselisih) dan bertaqwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat. (QS. 49:10)

Persaudaraan sesama muslim seperti satu tubuh. Tubuh kita mempunyai beberapa organ yang kait mengait dengan erat sehingga menjadi kuat. Sabda Nabi Saw “Perumpamaan orang-orang beriman di dalam cinta mencintai, sayang menyayangi, dan kasih mengasihi adalah seperti tubuh. Apabila salah satu anggota tubuh sakit, anggota tubuh yang lain turut merasakannya, yaitu tidak dapat tidur dan merasa panas”.

Tasamuh terhadap non muslim terbatas pada urusan yang bersifat duniawi, tidak menyangkut urusan aqidah, dan ubudiyah. Islam selalu menegakkan hidup beragama dalam suasana damai, rukun dan kerjasama. Hal itu di contohkan Rasulullah Saw ketika membangun masyarakat Madinah. Pada waktu itu Madinah terdapat tiga kelompok pemeluk agama yang berbeda, yaitu Islam, Nasrani, dan Yahudi. Kemudian dibuatlah perjanjian Piagam Madinah sebagai wujud toleransi antar agama. Begitulah tasamuh yang diajarkan Rasulullah Saw, apabila setiap insan memiliki jiwa tasamuh tentu negeri ini salalu tenteram dan damai.

Islam menyuruh manusia menegakkan kebenaran, berlaku adil, berlaku lemah lembut, kasih sayang kepada sesama manusia, menolong kaum lemah serta melakukan kebajikan-kebajikan yang lain. Semua itu merupakan perbuatan yang akan melahirkan kedamaian dan ketentraman suatu negara. Karena itu, seorang muslim ialah orang yang damai dan selalu memberikan kedamaian bagi orang lain, baik melalui lidahnya, tangannya, maupun kakinya. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad Saw. Artinya: “Seorang muslim adalah orang yang kaum muslimin merasa aman dari gangguan lidah dan tangannya, dan orang mukmin adalah orang yang manusia merasa aman darinya atas darah dan hartanya.” (HR Ahmad, Tirmizi dan Nasa’i)

Ketiga, bukti Islam penebar kedamaian ialah praktik dalam kehidupan bahwa Islam benar-benar telah dirasakan oleh para pemeluknya, ajarannya membawa kedamaian dan kesejahteraan secara hakiki baik secara lahir maupun batin. Salah satu bukti dari itu adalah bahwa setiap orang yang memeluk Islam mengutamakan pertimbangan akal yang mendalam dan dengan keikhlasan hati, ia tidak ingin keluar dari Islam meskipun sebesar apapun rintangannya, bahkan ia merasa tenang dan bahagia di dalam Islam, dan sebagai mukmin ia sudah merasakan betapa manisnya iman.

Demikian pula dengan meluasnya pengaruh Islam dari Spanyol sebelah barat sampai ke Filipina di sebelah timur, dari Afrika Tengah di sebelah selatan sehingga ke Danau Aral di sebelah utara, seluruh bangsa yang berada di bawah pengaruh Islam dengan rela hati menyatakan masuk Islam. Mereka merasa hidup lebih damai dalam Islam. Karena itu, negara-negara yang dahulu di bawah pengaruh Islam, kini menjadi negara-negara Islam dan mayoritas berpenduduk muslim, kecuali Spanyol, karena mereka terpaksa murtad dan memegang agama lain. Meskipun demikian, menurut data sejarah, mereka merasa lebih tenteram memegang agama Islam. Hal ini satu bukti bahwa Islam tidak memaksa umat lain masuk Islam, apalagi dengan kekerasan. Islam tidak memaksakan akidahnya, melainkan hanya bersifat mengajak dengan cara yang bijak. Allah SWT berfirman. Artinya:

Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang salah. Karena itu barang siapa yang ingkar kepada Taghut (syaitan atau apa saja yang disembah selain Allah) dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang  kepada buhul tali yang kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS. 2:256) 

Di negeri-negeri Islam dahulu tercapai kejayaan, kemakmuran, kesejahteraan, perdamaian dan tercapai peradaban yang gilang-gemilang. Kemajuan itu terutama terjadi pada masa ke khalifahan Umar bin Khattab, Umar bin Abdul Aziz, serta pada masa Khalifah Harun ar-Rasyid dan al-Makmun. Begitu makmurnya sehingga mencari orang miskin penerima zakat mendapat kesulitan.

Umat Islam di Indonesia pernah menjadi pelopor perjuangan mengusir penjajah, pelopor perjuangan merintis kemerdekaan, dan pelopor perjuangan mempertahankan kemerdekaan. Maka sangat wajarlah kalau umat Islam pada zaman sekarang ini berdiri di barisan yang paling depan untuk menjadi pelopor perdamaian.

Keempat, bukti Islam sebagai penebar kedamaian ialah cara dakwah Islam. Rasulullah Saw, dan para sahabat mengajarkan berdakwah dengan cara yang bijak tanpa kekerasan. Hal ini sebagaimana ayat Al-Qur’an:

“Serulah (manusia) ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang baik” (QS.16:125). Dan ayat:

“Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentu mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu” (QS. 3:159). Juga pesan Nabi saat mengutus Abu Musa dan Mu’adz berdakwah,

“Mudahkanlah, jangan mempersulit. Berilah kabar gembira, jangan membuat (objek dakwah) lari!” (HR Muslim).

Begitu juga dengan keberhasilan dakwah Islam di Indonesia yang di bawa oleh walisongo, yakni dengan pendekatan pada masyarakat pribumi dan akulturasi budaya (percampuran budaya Islam dan budaya lokal). Dakwah mereka adalah dakwah kultural.

Banyak peninggalan Walisongo menunjukkan, bahwa budaya dan tradisi lokal mereka sepakati sebagai media dakwah. Hal ini dijelaskan baik semua atau sebagian dalam banyak sekali tulisan seputar Walisongo dan sejarah masuknya Islam di Indonesia. Misalnya, dalam Ensiklopedi Islam; Târikhul Auliyâ’ karya KH Bisri Mustofa; Sejarah Kebangkitan Islam dan Perkembangannya di Indonesia karya KH Saifuddin Zuhri; Sekitar Walisanga karya Solihin Salam; dan Kisah Wali Songo: Para Penyebar Agama Islam di Tanah Jawa karya Asnan Wahyudi dan Abu Khalid MA.

Dahulu di Indonesia mayoritas penduduknya beragama Hindu dan Budha, dan terdapat berbagai kerajaan Hindu dan Budha, sehingga budaya dan tradisi lokal saat itu kental diwarnai kedua agama tersebut. Budaya dan tradisi lokal itu oleh Walisongo tidak dianggap “musuh agama” yang harus dibasmi. Bahkan budaya dan tradisi lokal itu mereka jadikan “teman akrab” dan media dakwah agama, selama tak ada larangan dalam nash syari’at.

Pada mulanya, Walisongo belajar bahasa lokal, memperhatikan kebudayaan dan adat, serta kesenangan dan kebutuhan masyarakat. Lalu berusaha menarik simpati mereka. Karena masyarakat Jawa sangat menyukai kesenian, maka Walisongo menarik perhatian dengan kesenian, di antaranya dengan menciptakan tembang-tembang keislaman berbahasa Jawa, gamelan, dan pertunjukan wayang dengan lakon Islami. Setelah penduduk tertarik, mereka diajak membaca syahadat, diajari wudhu’, shalat, dan sebagainya. Itulah keindahan dan kebijaksanaan dakwah Islam yang diajarkan oleh Walisongo, sehingga semua manusia merasakan kedamaian dan ketentraman.

Kelima, Islam sebagai agama penebar kedamaian ialah pandangan para sarjana non muslim terhadap ajaran Islam. Para sarjana non muslim secara transparan mengakui bahwa Islam sebagai agama paling benar, agama yang menuntun pemeluknya kepada kedamaian hidup yang hakiki. Kebanyakan para muallaf (orang yang masuk Islam) itu dari kalangan intelektual, setelah mereka mengkaji Islam secara mendalam, kemudian mereka tidak menjumpai satupun nilai Islam yang mengajarkan pada ekstrimisme melainkan yang dijumpai adalah ajakan pada kedamaian. Sebagai contohnya, Prof. Dr. Garaudi (pemikir Barat), setelah mengkaji kebenaran Islam secara mendalam, ia akhirnya memeluk agama Islam. Adapun jika masih banyak orang yang belum memeluk agama Islam, hal itu bukan karena mereka tidak mengetahui kebenaran Islam, melainkan hanya karena kedengkian dan belum memperoleh hidayah (petunjuk dari Allah).

Sebagai penutup, mari kita tebarkan kedamaian, sehingga tercipta kesejahteraan hidup bagi semesta alam. Jika ada sekelompok muslim yang mengajarkan ekstrimisme, maka timbul pertanyaan: “Siapakah sebetulnya pelaku ekstrimisme agama itu? Dan mengapa ekstrimisme berlatar belakang agama ditujukan kepada Islam? (*)

Oleh : Moh. Toharudin M.Pd

Pengurus PC LDNU Kabupaten Tegal 2011-2016

 

banner 468x60)

Related Post