KH Ahmad Fadil, Gurunya Sang Guru

kh-akhmad-fadil-nu-media-centerTegal, Media Center NU
Bulakwaru-Pagi itu, Minggu (1/10) ribuan orang berkempul di Komplek Makam KH Ahmad Fadil, menikmati kalam-kalam Ilahi yang dipimpin oleh Habib Bagir Bin Hasan Bin Husain untuk memperingati Haul Almaghfurlah KH. Ahmad Fadil yang ke 26. Haul yang dilakukan secara rutin ditiap hari Ahad pertama bulan Muharram. Beliau di kenal sebagai Gurunya sang guru.
Berikut sedikit manaqib Guru Ahmad Fadil, beliau dilahirkan di Duren Sawit-Kesuben Kecamatan Lebaksiu Tegal, anak dari KH. Abdullah Abdurrahman. Menikah dengan Hj. Siti Musaadah anak dari KH Idris Muhaimin (Bulakwaru-Tarub). Beliau di karuniai 9 anak antara lain , Hj Muzayanah, Hj Mundiroh, KH Khoerul Amin, KH Irfan, Hj Muyasaroh, H. Muzamil, Ustadz Imamudin, Siti Munfarijah dan Siti Aminah.
Dalam masa pendidikan non formalnya beliau mondok di awali di Babakan Lebaksiu Tegal.
“Dulu, ketika beliau minta mondok, beliau di tantang oleh Abahnya untuk hafal terlebih dahulu kitab nadzam imrithi dan jurumiyyah. Karena keinginan besar untuk mencari ilmu agama, maka tantangan itupun dilakukan. Bukan hanya itu saja, setelah hafal 2 kitab tersebut, Abahnya memberi tantangan kembali untuk mengamalkan Surat Waqiah. Setelah sholat Isya untuk membaca surat al waqiah sampe datangnya waktu Subuh selama 1 minggu.” kenang KH. Choerul Amin Fadil dalam sambutan atas nama keluarga.
Tahun 1954 beliau pindah dari Babakan ke Ciwaringin, Cirebon. Di babakan sudah hafal Alfiyah dan sudah disuruh membantu mengajar di pondok. Setelah dari Ciwaringin, tahun 1956 pindah ke Kaliwungu-Kendal.
Sebelum pindah ke Kaliwungu Kendal, Abahnya KH Abdullah Abdurrahim memberi nasihat kepada KH Ahmad Fadil untuk berkunjung, meminta restu kepada Kyai-Kyai, agar nantinya ilmu yang diterima bisa bermanfaat. Salah satu Kyai yang di kunjungi adalah KH Idris Muhaimin (Bulakwaru-Tarub).
“Saya akan memberi do’a restu kepadamu, agar manfaat ilmumu, tapi nikahi dulu anak saya, Siti Musaadah” kenang KH Choerul Amin, meniru perkataan KH Idris Muhaimin.
Demi mencari keberkahan ilmu, syarat itupun di terima. Beliau menikah dengan Hj. Siti Musaadah. Setelah menikah, beliau melanjutkan kembali untuk menimba ilmu ke Kaliwungu-Kendal.
Tahun 1962, KH Ahmad Fadil pulang ke Bulakwaru Tarub, beliau langsung terjun ke masyarakat, membuka pengajian-pengajian. Banyak dari santrinya yang sekarang menjadi Kyai dan Ustadz di lingkungannya. Salah satu karomah beliau adalah dapat mengajar 5 kelas kepada santri-santrinya dalam satu waktu.
“Hanya dengan meninggalkan bolpoint, peci dan barang-barang pribadinya di meja Guru, suasana kelas kondusif, tidak ada gemerah dalam kelas.” kenangnya kembali.
Dalam acara Haul ke 26, hadir KH Ridwan Sururi dari Banyummas sebagai pembicara. Hadir pula Ki Entus Susmono, bupati Tegal, Muspika Kecamatan Tarub, para Ulama dan santrinya. (Moh. Ali Sukron)

banner 468x60)

Berita Lokal Berita Nasional

Related Post