Merumuskan Formula Baru Gerakan IPNU

dp

Moh. Ali Sukron: Merumuskan Formula Baru Gerakan IPNU

 

Slawi, Media Center NU

Gelaran akbar tiga tahunan Pimpinan Wilayah IPNU Jawa Tengah akan segera dilaksanakan, bertempat di Pondok Pesantren Assalafiyah I Luwungragi, Bulakamba, Brebes. Ajang Konferensi Wilayah (Konferwil) XV kali ini mengambil tema “Menjaga Keberagaman di Tengah Keberagaman untuk Persatuan dan Kesatuan Bangsa”. Dengan berbagai rangkaian acara telah disiapkan, seperti : Talk Show Kebangsaan, Pagelaran Wayang Santri, Konvoi Damai “Trip De Maulid”, Festival Rebana, Duta Pelajar NU Jateng, Lomba Mading dan Film Dokumenter, semua itu bentuk ikhtiar pelajar NU Jawa Tengah untuk membangkitkan kembali warisan besar nenek moyang bangsa yang dirasa mulai hilang dikalangan genarasi muda.

Konferwil adalah suatu musyawarah tertinggi IPNU di tingkatan Provinsi, yang nantinya PW IPNU dan delegasi Pengurus Cabang se-Jawa Tengah akan membahas beberapa agenda yakni masalah terkait organisasi, program kerja, rekomendasi dan memilih ketua baru.

Tapi nyatanya, dalam mempersiapkan agenda-agenda tersebut, seperti halnya ajang-ajang besar organisasi lainnya: Muktamar, Kongres dan sebagainya, isu yang paling kita dengar dan sering disuarakan oleh para kadernya adalah isu siapa yang nanti akan diusung, siapa yang akan dijagokan menjadi Ketua, bukan hal-hal yang progresif untuk kemajuan organisasi. Sehingga calon yang digembar-gemborkanpun mulai merapat ke daerah-daerah yang akan dijadikan sekutunya.

Sebagai organisasi pelajar, IPNU memiliki tanggungjawab besar memerankan diri untuk menjadi ruang aktualisasi dan tempat dinamika proses terciptanya yang menurut Ahmad Syauqi disebut “Generasi Paripurna” atau “Asy Syubban Al Kaahfi” yaitu sebuah generasi yang mampu menjawab berbagai problem dengan tawaran konsep dan formula baru sesuai dengan konteks zamannya. Hal ini tentu tidak mudah, banyak halang rintang yang mesti dihadapi dan diselesaikan, baik masalah internal organisasi maupun permasalahan keterpelajaran pada umumnya.

Bila satu tahun kebelakang kita dihadapkan dengan masalah radikalisme, terorisme dan narkoba, sekarang kita sudah dihadapi dengan semakin keroposnya rasa cinta kepada keberagaman bangsa. Hal itu bisa dilihat dari banyaknya konflik-konflik yang terjadi yang mengatasnamakan agama. Jelas, ini sangat mengkhawatirkan untuk keberlangsungan kehidupan berbangsa dan bernegara.

Realitas suatu bangsa yang menunjukkan adanya kondisi keanekaragaman suku bangsa, budaya, agama, ras dan golongan menga­rahkan pada pilihan untuk menganut asas multi­kulturalisme. Dalam asas multikultu­ralisme ada kesadaran bahwa bangsa itu tidak tunggal, tetapi terdiri atas sekian banyak komponen yang berbeda. Multikulturalisme menekankan prinsip nilai-nilai kebersamaan di antara keragaman suku bangsa, budaya, agama ras dan golongan tersebut. Semua suku bangsa, budaya, agama ras dan golongan pada prinsipnya sama-sama ada dan karena itu harus diperlakukan dalam konteks duduk sama rendah dan berdiri  sama tinggi. Asas itu pulalah yang diambil oleh Indonesia, yang kemudian dirumuskan dalam semboyan yaitu “Bhineka Tunggal Ika”.

 

Dengan adanya multikulturalisme (ragam budaya), diharapkan mempertebal sikap toleransi dan rasa tolong menolong serta nasionalisme kita. Kita mesti bangga, memiliki suku bangsa, budaya, agama ras dan golongan yang beragam. Keragaman suku bangsa, budaya, agama ras dan golongan merupakan kekayaan bangsa yang tak ternilai harganya. Sebagai contoh bangsa asing saja banyak yang berebut belajar budaya daerah kita. Bahkan kita pun sempat kecolongan, budaya asli daerah kita diklaim atau diakui sebagai budaya asli bangsa lain. Karya-karya putra daerah pun juga banyak yang diklaim oleh bangsa lain.

 

Disisi lain permasalahan internal organisasi yakni kembalinya IPNU menjadi organisasi pelajar sesuai dengan keputusan Kongres XIV Surabaya yaitu, mengembalikan basis IPNU di sekolah dan pesantren, membangun gerakan berbasis keilmuan pelajar NU, advokasi pendidikan,  memperkenalkan dan menanamkan nilai-nilai ke- NU-an pada pelajar itu belumlah selesai.

 

Mengembalikan IPNU ke Pondok Pesantren adalah hal yang penting dilakukan, kita bisa hitung di tiap-tiap cabang yang ada di Jawa Tengah, berapa Komisiariat Pondok Pesantren yang ada? Tentu ini menjadi perhatian serius dalam musyawarah tertinggi di tingkat provinsi nanti. Melihat betapa besar dan pentingnya peran Pondok Pesantren.

Pondok Pesantren adalah basis utama kekuatan NU, tulang punggung mempertahankan ajaran Islam pada umumnya ataupun NU pada khususnya. Dengan peran yang bergitu besar harusnya peran pondok pesantren harus terus dijaga akan ajaran agama dan budayanya. Kita bisa melihat sejarah, bagaiamana tokoh-tokoh NU lahir dari pesantren, seperti KH. Hasyim Asy’ari, KH. Wahab Khasbullah, KH. Bisri Mustofa dan lain sebagainya.

Selain pesantren, garapan kaderisasi IPNU adalah sekolah. Namun pada kenyataannya, belum adanya sentuhan program-program yang menjadi daya tarik bagi para pelajar untuk bergabung di IPNU. Realitas tersebut dapat dilihat dengan sedikit adanya Komisariat-komisariat di Sekolah Negeri bahkan di Sekolah Ma’arif sekalipun. Dengan adanya lembaga pendidikan di tubuh NU, tentu itu menjadi modal besar untuk memajukan IPNU di sekolah, namun itupun belum bisa dimaksimalakan betul oleh para pengurus IPNU.

Menurut Khoerul Anam, mengurusi kaderisasi di tingkat pelajar dan santri terkadang harus diluruskan dengan cita-cita berdirinya IPNU, yakni mempelajarkan santri, mensantrikan pelajar. Karena hampir semua keterangan “Pelajar” di “IPNU” di anggap sebagai pelajar yang sedang bersekolah di sekolah formal, seperti SMP, MTs, SMA, SMK, MA. Pemahaman ini harus diluruskan karena  santri pun dianggap “Pelajar” hal ini karena santri di pondok pesantren adalah pelajar yang menuntut ilmu. Mungkin dari pemahaman tersebut hingga saat ini masih sulit berkembang maksimalnya IPNU di Pondok Pesantren apalagi di Sekolah Umum.

Dengan berbagai tantangan dan permasalahan di atas, tentu ini menjadi cambuk semangat bagi para Pendekar IPNU. Momentum Konferwil XV IPNU Jawa Tengah mestinya dimanfaatkan betul oleh para Pendekar IPNU untuk merumuskan formula baru gerakan IPNU yang strategis yang mampu menyelesaikan permasalahan dan menjawab tantangan yang ada.

Moh. Ali Sukron

Wakil Ketua Cabang IPNU Kab. Tegal

banner 468x60)

Konferwil XV IPNU Jateng Merumuskan Formula Baru Gerakan IPNU

Related Post